Kesan Kami Untuk PMM

Hasil Tampak Media

Dari sepanjang perjalanan mengikuti mata kuliah Produksi Multimedia, kelompok berkesempatan untuk mengunggah beberapa artikel dalam website kami. Berikut traffic dan insight yang berhasil kami dapatkan selama satu semester ini:

Traffic Tampak Media selama tahun 2019
Insight Tampak Media selama tahun 2019

Regina Jachinta (160905974)

Produksi Multimedia merupakan salah satu mata kuliah wajib konsentrasi studi Komunikasi Massa dan Digital. Pada mata kuliah ini saya belajar banyak mengenai bagaimana cara seseorang dalam menggunakan strategi mengelola platform multimedia, sehingga dapat mengembangkan berbagai platform multimedia tersebut.

Selain itu, dari berbagai tugas dan ujian yang ada, saya pun belajar untuk meliput berbagai berita yang nantinya akan diunggah di website kelompok. Kami pun berkesempatan untuk melakukan praktik lapangan seperti live report keadaan lalu lintas, walaupun bukan saya yang menjadi reporter namun saya ikut terlibat dalam memproduksi live report yang saat itu langsung disiarkan secara streaming di kanal YouTube milik LAB AVI FISIP UAJY.

Praktik lapangan lainnya juga dilakukan saat ujian tengah semester, yaitu kelompok melakukan siaran radio visual yang langsung ditayangkan secara streaming di kanal Youtube LAB AVI FISIP UAJY. Pengalaman siaran secara langsung itulah yang saya dapat saat berdinamika bersama kelas PMM 2019.

Karena kebetulan saat itu saya menjadi salah satu penyiar di media kelompok, maka saya banyak belajar bagaimana cara menenangkan diri untuk tetap tenang di depan layar. Selain itu, saya juga belajar untuk menyiapkan naskah dan berbagai materi, untuk mendukung siaran tersebut.

Praktik terakhir yang saya lakukan ialah memproduksi program televisi. Kebetulan saya mendapatkan topik documenter, jujur saja topik ini cukup sulit untuk diproduksi karena sebelumnya saya belum pernah memproduksi film documenter. Tetapi dengan usaha yang segigih mungkin saya bisa melewati masa sulit tersebut.

Dari sepanjang proses yang saya jalani, saya berharap mendapatkan nilai B+, karena saya merasa belum maksimal dalam mengerjakan tugas yang diberikan. Namun memang dari beberapa tugas yang diberikan dan proses penyelesaian tugas UTS dan UAS, saya sudah mengerjakan semaksimal mungkin bersama teman-teman kelompok saya.

Berikut link tugas yang pernah saya buat:

https://www.kompasiana.com/regina62467/5c740c7e6ddcae21ad53c99a/apakah-geolive-id-sudah-sesuai-kriteria

https://www.kompasiana.com/regina62467/5c62de7ebde575342f7ad133/serba-serbi-multimedia-journalism

David Christian The (160906159)

Produksi Multimedia merupakan salah satu mata kuliah wajib yang harus diambil oleh seluruh mahasiswa Ilmu Komunikasi dengan konsentrasi studi Komunikasi Massa dan Digital. Melalui mata kuliah ini, saya diajak untuk belajar mengenai media yang digunakan oleh masyarakat di seluruh dunia, khususnya media digital. Saya diberikan materi tentang cara pengelolaan media dengan baik. Mulai dari pembuatan beberapa media, strategi pengelolaan media, produksi konten media, dan sebagainya.

Mata kuliah ini berfokus pada praktek lapangan, walaupun secara teori juga diajarkan oleh dosen. Namun, teori terkadang tidak cukup membantu untuk melakukan praktik di lapangan, sehingga saat praktik lapangan saya terpacu untuk belajar secara langsung. Menurut saya belajar secara langsung dalam praktek lapangan lebih efektif bagi mahasiswa untuk lebih memahami esensi dari mata kuliah Produksi Multimedia.

Setiap tugas yang diberikan oleh dosen mengharuskan saya untuk mempelajari sendiri tentang cara produksi konten media baik pra produksi maupun pasca produksi. Selain itu, saya juga belajar untuk melakukan liputan bagi pembuatan materi radio visual dan juga program televisi. Saat melakukan ujian tengah semester saya berkesempatan untuk menjadi penyiar dalam radio visual. Dari sini saya menjadi tahu bagaimana cara mengontrol emosi dan perasaan ketika on air. Saya juga belajar untuk mengembangkan passion saya dalam dunia penyiaran. Produksi Multimedia membuat saya bisa menulis di media online dan menarik pengunjung.

Berdasarkan kinerja saya di mata kuliah ini selama satu semester, saya berharap mendapatkan nilai A-. Alasan saya memilih nilai A- karena dalam mengerjakan seluruh tugas, saya merasa apa yang sudah saya buat merupakan hasil paling maksimal. Nilai ini menurut saya juga sepadan dengan seluruh perjuangan saya dalam menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan baik individu maupun kelompok. Feedback baik yang diberikan oleh teman-teman sekelas dalam setiap pertemuan juga mendukung alasan saya memilih nilai tersebut.

Berikut adalah link tugas-tugas yang pernah saya buat dalam mata kuliah ini:

https://www.kompasiana.com/david15127/5c630ff2677ffb4fe5277194/jurnalisme-online-dan-keistimewaannya

https://www.kompasiana.com/david15127/5c7599a843322f6f1a566b49/membongkar-video-sokinggris-ngedate-dari-fix-productions

https://soundcloud.com/davidchrstan/vol-2-jurnalisme-online-dan-keistimewaannya

https://soundcloud.com/user-568389228/bincang-captain-marvel

Katly Novita Sidauruk (160906001)

Mata kuliah Produksi Multimedia pada semester ini yang wajib saya ambil sangat bermanfaat untuk saya. Saya bisa dapat mengetahui cara pengambilan gambar dengan baik lalu dibagikan melalui instagram. Tidak hanya itu kami mempelajarari menggunakan caption pada gambar yang telah dibagikan untuk media sosial. Ketika bapak menyampaikan materi, ini bisa menjadi bekal untuk saya kemudian hari. Saya juga bisa dapat mengerti bagaimana keadaan dibalik seorang penyiar radio dalam melakukan siaran secara langsung.

Saat melakukan itu bersama teman kelompok saya menurut saya itu merupakan kesan yang sangat seru. Saya dapat mengetahui sistem kerjasamanya di dalam radio itu bagaimana. Kami juga sering menulis materi yang diberikan bapak dan menuliskan pada web atau kompasiana.com. Ketika saya dulu baru mengetahui kalau mengambil nilai dari begitu banyak pembaca itu merupakan nilai terpenting. Mengetahui cara penulisannya dengan baik dan tidak sembarangan. Cara pengambilan nilai yang bapak pakai menurut saya itu unik.

Tidak hanya itu kami disuruh membuat podcast dengan berbagai tema bermacam-macam awalnya saya tidak pede dengan suara saya. Tapi ketika bapak memberikan kami tugas untuk membuat podcast. Jadi saya mengetahui begini dibalik orang dari suara ini. Menurut saya membuat podcast itu menyenangkan ngobrol sambil mendengarkan musik yang sesuai dengan tema. Lalu di rekam dan di baca sesuai pengertian jurnalis itu apa dan lainnya.

Saya senang ketika bapak memberikan tugas yang menurut kami sedikit sulit  atau pun terkadang mudah. Jadi kami bisa belajar, di balik dari media massa ini tidak semua mudah yang dilihat oleh orang lain. Ternyata butuh sangat banyak untuk pembelajaran mengetahui metode-metode dan progress yang ingin dibuat. Seperti program yang ingin dibuat kepada kelompok kami. Terkadang kami mengalami kesulitan untuk mencari membahas tentang apa. Kesulitan yang kami alami menjadi suatu masalah yang harus kami hadapi contohnya terkadang kami memulai rekaman atau membuat video. Terhadap narasumber kami selalu mengalami gejala atau gangguan yang diluar dugaan. Awalnya memang menyulitkan tapi setelah kami pelan-pelan mengerjakannya kami mengerti bahwa ini bisa di selesaikan secara baik. Kami harap hasil yang kami kerjakan menjadi sebuah hasil yang baik untuk sekarang dan kedepannya.

Saya berharap bapak bisa memberikan saya nilai B 🙂 karena saya merasa kurang memenuhi tugas atau kurang melengkapinya. Karena saya masih banyak yang perlu saya koreksi dan tidak sepenuhnya sempurna dalam tugas maupun nilai.

Ini link saya kerjakan terhadap mata kuliah Produksi Multimedia :

https://www.kompasiana.com/katlynovitasidauruk2044/5c75ad3dc112fe5f173813e3/youtuber-masuk-partai-politik.https://www.kompasiana.com/katlynovitasidauruk2044/5c62166cbde5757d90756783/jurnalisme-online

https://soundcloud.com/katly-sidauruk/media-jurnalisme-masa-depan https://soundcloud.com/katly-sidauruk/jurnalisme-online

Felicia Priska Hardanik (160905991)

Salah satu mata kuliah wajib yang saya ambil di semester 6 adalah Produksi Multimedia. Pada mata kuliah ini saya belajar tentang cara memproduksi, mengedit, dan mengunggah konten-konten di platform multimedia yang dibuat, baik dibuat kelompok maupun individu. Mata kuliah ini lebih banyak mengajarkan dengan cara praktik langsung dalam mengaplikasikan ilmu tentang strategi mengelola berbagai platform multimedia. 

Melalui tugas dan ujian yang ada, saya belajar untuk melakukan liputan di lapangan, mewawancarai narasumber, membuat program televisi, membuat radio visual, dan masih banyak lagi. Salah satu praktek lapangan yang melekat dalam ingatan saya adalah live report. Melalui kegiatan ini, saya menjadi tahu tentang apa yang harus dipersiapkan ketika akan melakukan live report serta apa saja yang harus dilakukan saat on air dan off air. Saya berkesempatan untuk menjadi presenter live report untuk kelompok saya. Kemudian hasil live report tersebut langsung ditunjukkan kepada salah satu alumni FISIP UAJY yang juga presenter Liputan 6 SCTV yaitu Prisca Niken. Saran dan juga masukan yang diberikan Mbak Niken seperti cara memegang mikrofon dengan benar, kalimat-kalimat yang harus diucapkan, cara opening  dan closing acara yang baik, dsb membuat saya menjadi tahu akan factor-faktor penting yang harus diperhatikan seorang presenter live report.

Praktik lapangan lainnya juga dilakukan saat ujian tengah semester, yaitu kelompok melakukan siaran radio visual yang langsung ditayangkan secara streaming di kanal Youtube LAB AVI FISIP UAJY. Pengalaman siaran ini menempatkan saya di balik layar yaitu di ruang master control. Di ruangan ini saya belajar untuk mengelola keseluruhan acara radio visual mulai dari awal sampai akhir. Selain itu, karena masih adanya kesalahan dan miskomunikasi dari kelompok juga membuat saya belajar untuk mencari solusi dan menentukan keputusan yang harus diambil agar acara tetap berjalan dengan lancar tanpa menganggu penonton.

Dari seluruh proses yang saya jalani, saya berharap mendapatkan nilai B+, karena saya merasa belum maksimal dalam mengerjakan tugas yang diberikan. Masih terdapat beberapa tugas yang belum sesuai dengan kaidah materi Produksi Multimedia. Namun jika dilihat dari beberapa tugas yang diberikan dan proses penyelesaian UTS dan UAS, saya sudah mengerjakan semaksimal mungkin sesuai dengan kemampuan saya. Selain itu, saya juga berkontribusi untuk kelompok saya dalam menyelesaikan ujian.

Berikut link tugas yang pernah saya buat:

https://www.kompasiana.com/felicia64245/5c7407cc12ae946dd0391f08/evaluasi-video-cameo-project-tentang-politik-2019

https://www.kompasiana.com/felicia64245/5c62efa512ae9468ed112f45/jurnalistik-online-makin-mendunia

https://www.kompasiana.com/felicia64245/5cbf527da8bc15104051c3c2/kenali-apa-itu-visual-storytelling

Beritagar.id Gunakan Robot Untuk Menulis Berita

Yogyakarta – Sebagai media digital yang memberikan berbagai informasi penting bagi masyarakat, Beritagar.id menggunakan robot untuk mendukung pengisian konten situsnya. Pengembangan teknologi robot yang disebut sebagai robotorial ini merupakan upaya untuk membantu tim redaksi dalam menghasilkan berita.

Kristin Amelina, marketing dari Beritagar mengatakan, teknologi robotorial yang dikembangkan oleh Beritagar ini sebagai upaya untuk lebih memudahkan wartawan dan mempercepat penulisan berita. Robot ini merupakan suatu bahasa pemograman dengan menggunakan teknologi Machine Learning dan Neuro Language Programing (NLP).

Dalam penggunaannya robot ini diawasi oleh tim editorial agara berita yang dihasilkan sesuai dengan kebutuhan dari editor. “Robot-robot ini diajarkan supaya bisa menulis artikel sesuai dengan arahan dari editor,” katanya (30/4).

Teknologi yang diluncurkan sejak pertengahan tahun 2018 ini sebenarnya masih di uji coba pada dua topik artikel yaitu berita olahraga dan berita ekonomi. Hal ini dilakukan karena kedua topik tersebut dianggap memiliki variabel yang tetap serta sudah memiliki data-data yang pasti.

Data-data tersebut diperoleh dari kerjasama dengan pihak ketiga sebagai penyedia data. “Teknologi ini kerja sama dengan penyedia data layanannya juga, sehingga melibatkan pihak ketiga yaitu perusahaan lain,” tambah Kristin.

Salah satu tim redaksi Beritagar.id, Aghnia Adzkia mengatakan, teknologi robotorial membantu kerja dari wartawan dalam melahirkan sebuah berita. Hal ini juga dapat berpengaruh terhadap konten yang diunggah Beritagar di situsnya yang akan menjadi lebih cepat.

“Robotorial ini membantu kerja dari wartawan juga untuk menulis berita. Teknologi ini kira-kira akan membantu kerja wartawan sekitar 50%,” jelas Aghnia (30/4).

Meski keseluruhan penulisan berita dilakukan oleh robot, namun tim editor masih harus menjadi pengendali dari sistem robot tersebut. Tulisan dari robotorial tidak begitu saja diunggah ke situs beritagar, akan tetapi tim editorial akan tetap menyeleksi dan memvalidasi tulisan tersebut apakah layak atau tidak untuk disebarkan.

Ketika tulisan sudah disetujui oleh tim editorial, maka berita tersebut akan diunggah ke situs beritagar.id. Selain itu, teknis bahasa pemograman dari robotorial juga akan terus berubah sesuai dengan kebutuhan dari media beritagar itu sendiri.

Angkringan Kopi Joss, Tempat Nongkrong Merakyat di Jogja

Belum sah rasanya jika berkunjung ke Jogja tetapi belum mampir ke angkringan kopi joss. Angkringan yang terkenal dengan sajian unggulannya berupa arang membara dalam secangkir kopi ini menjadi salah satu destinasi wisata malam di Jogja.

Letaknya yang berada di pinggir jalan tidak menyurutkan minat wisatawan maupun warga Jogja untuk menikmati secangkir kopi joss atau sekedar berkumpul bersama teman.

Angkringan kopi joss adalah satu dari sekian banyak tempat nongkrong di Jogja yang sangatlah terkenal. Salah satu angkringan kopi joss yang cukup legendaris di Jogja ini adalah Angkringan Kopi Joss Mbak Siska.

Angkringan ini sudah ada sejak tahun 1995 dan terletak di Jalan Wongsodirjan, Sosomenduran, Gedong Tengen, Yogyakarta. Letaknya yang berada di tengah-tengah Kota Yogyakarta dan hanya beberapa menit dari Malioboro menjadikan tempat ini mudah untuk dijangkau.

Kopi Joss Menjadi Andalan

Kopi joss yang merupakan andalan dari angkringan ini dan selalu dicari-cari pengunjung merupakan varian kopi yang unik. Kopi ini berbeda dengan kopi lainnya sebab bara arang yang menyala dicelupkan kedalam segelas kopi.

Bunyi joss yang dihasilkan antara bara arang dengan kopi menjadikan kopi ini dikenal dengan nama kopi joss. Walaupun sudah banyak tempat lain yang juga menawarkan minuman ini, akan tetapi suasana merakyat yang ditawarkan di Angkringan Mbak Siska tidak bisa dirasakan di tempat yang lain.

Menurut Fajar, salah satu pengunjung Angkringan Mbak Siska mengatakan bahwa arang dalam kopi joss menciptakan sensasi rasa yang berbeda dari kopi lain. Hal ini yang membuatnya selalu ketagihan untuk menikmati minuman ini.

“Rasa yang muncul dari arangnya membuat kopi joss ini memiliki cita rasa yang khas dan nagih,” katanya. Kopi joss memiliki harga yang murah untuk setiap gelasnya yaitu sebesar Rp. 4.000,- untuk kopi hitam dan Rp. 5.000,- untuk kopi susu.

Aneka Jajanan Murah Meriah

Selain kopi joss sebagai menu utama di angkringan ini, masih ada menu-menu lainnya yang tidak kalah menarik. Bagi pengunjung yang tidak meminum kopi, jangan khawatir karena angkringan ini banyak menyediakan alternatif lain selain kopi.

Angkringan ini menawarkan berbagai jenis wedangan atau minuman mulai dari teh, susu jahe, jeruk panas, serta minuman instan lainnya.

Harga yang dibandrol untuk setiap minuman dapat dikatakan murah meriah dan ramah untuk kantong mahasiswa karena harganya berkisar antara Rp. 2.000,- hingga Rp. 5.000,-.

Berbagai jajanan seperti nasi kucing dengan lauk oseng dan teri, tempe mendoan, tahu isi, sate telur, sate usus, bakso tusuk, dan aneka sate lainnya dibandrol harga mulai dari Rp. 2.000,- saja.

Banyaknya varian jajanan yang diberikan oleh Angkringan Mbak Siska membuat pengunjung memiliki banyak alternatif untuk menikmati makanan dan minuman.

Tempat Nongkrong yang Merakyat

Letak angkringan yang berada di pinggir jalan raya dengan sedikit pencahayaan menciptakan suasana yang hangat serta kesan kekeluargaan. Tempat duduk pengunjung yang hanya beralaskan tikar menambah kesan merakyat bagi setiap pengunjungnya.

“Suasananya asik dan terasa hangat menjadi alasan saya sering datang ke tempat ini. Harga dan suasana yang diciptakan juga kesannya merakyat dan Jogja Banget,” kata Fajar.

Banyak anak-anak muda yang mengahabiskan waktu untuk sekedar nongkrong bersama teman-temannya di angkringan ini. “Hampir semua yang datang ke sini anak-anak muda bersama teman-teman atau komunitasnya,” kata Bayu Aji selaku penjual Angkringan Kopi Joss Mbak Siska.

Selalu Ramai Pengunjung

Angkringan ini selalu penuh oleh pengunjung yang berasal dari berbagai macam kalangan mulai dari anak muda sampai orang tua. Saat akhir pekan tiba, angkringan ini semakin ramai terisi penuh oleh pengunjung dari Kota Jogja maupun luar Kota Jogja.

Angkringan ini buka setiap hari termasuk di hari kerja. Hal ini tidak menyurutkan minat pengunjung untuk datang ke angkringan walau di hari kerja sekalipun.

Setiap harinya angkringan ini buka dari pukul 5 sore sampai pukul 3 pagi. Namun, jangan khawatir kehabisan tempat duduk, karena trotoar yang panjang dengan alas tikar di sepanjang jalan Wongsodirjan siap menampung banyak pengunjung untuk menghabiskan malam di Jogja.

‘Satrio Alid’ Lestarikan Panahan Tradisional

YOGYAKARTA – Sejumlah ‘Satrio Alid’ latihan panahan tradisional, pada Sabtu (24/4) di Jl. Langenastran Kidul No. 18B, DIY. Kegiatan ini sekaligus lestarikan kebudayaan asli Yogyakarta yaitu jemparingan.

‘Satrio Alid’ merupakan sebutan untuk anak-anak yang tergabung dalam Paseduluran Jemparingan Langenastro, dengan rentang usia tujuh tahun sampai 11 tahun.

Menurut R. Kris Budiharjo selaku Seksi Pelatihan di Paseduluran Jemparingan Langenastro, usia ideal bagi anak untuk berlatih jemparingan adalah mereka yang berada pada kelas 4 – 6 SD.

Jemparingan merupakan panahan tradisional asal Yogyakarta yang saat ini mulai berkembang lagi. Dapat dilihat dengan kemunculan berbagai klub jemparingan yang tersebar di beberapa daerah Yogyakarta, seperti di Kulonprogo, Imogiri dan Sambilegi.

Salah satu klub jemparingan yang dianggap ‘sepuh’ adalah Paseduluran Jemparingan Langenastro.

Latihan yang diikuti oleh para Satrio Alid rutin dilaksanakan setiap hari Sabtu pukul 16.00 WIB. Setidaknya ada 10 anak yang mengikuti latihan setiap minggunya.

Menurut Kris, Jemparingan Langenastro tidak hanya fokus memelihara jemparingan tetapi juga berusaha untuk mengembangkannya kepada anak-anak, seperti yang dilakukan pada (24/4).

Dengan adanya latihan rutin setiap minggunya, diharapkan kegiatan ini dapat fokus untuk ‘nguri-uri’ kebudayaan dan juga mengembangkannya. Sehingga dengan mendampingi anak-anak dalam latihan jemparingan mereka dapat menjadi mandiri dalam hal jemparingan.

“Semua dirangkul dan bisa mandiri, dan harapannya pun mereka bisa berdiri sendiri, dalam artian tidak di bawah Langenastro,” ucap Kris.

Selain diajarkan untuk mengembangkan kebudayaan, para Satrio Alid diajarkan untuk menjunjung tinggi arti kekeluargaan, salah satunya dengan saling menghormati setiap anggotanya baik yang dewasa maupun anak-anak.

Selanjutnya tradisi ‘salam’ juga diajarkan kepada  para Satrio Alid sehingga saat mereka datang dan pulang latihan, mereka diharapkan dapat bersalaman pada siapapun yang berada di lapangan, baik yang dewasa maupun sesama anak-anak. Hal ini bertujuan untuk semakin mempererat rasa kekeluargaan dari komunitas ini.

Saat berlatih jemparingan, Satrio Alid diwajibkan untuk menggunakan udeng dan jarik. Penggunaan udeng dan jarik bertujuan supaya para Satrio Alid semakin mendalami nilai-nilai yang diajarkan jemparingan, sehingga mereka tidak hanya bermain jemparingan, tetapi juga menyerap dan mengerti nilai yang ada dalam panahan tradisional, jemparingan.

Pujian untuk Satrio Alid

Salah satu Satrio Alid yang sedang menunjukkan aksinya saat bermain jemparingan

Menurut Kris, untuk menyampaikan nilai-nilai kepada Satrio Alid diperlukan beberapa trik khusus yaitu dibicarakan, dicontohkan, dan ditunjukkan. Jemparingan memiliki banyak teknik, sehingga Satrio Alid dibebaskan untuk menggunakan teknik mana pun sesuai dengan kemampuan mereka.

“Yang kedua, tidak menyalahkan anak, karena tidak ada kata salah di jemparingan,” ucap Kris. Dalam mendampingi Satrio Alid berlatih jemparingan, para pelatih akan mendapingi Satrio Alid sampai mereka menemukan tekniknya sendiri. Saat pelatih tidak menyalahkan Satrio Alid, maka mereka pun akan lebih nyaman.

Ketiga, tidak pelit untuk memberikan pujian kepada Satrio Alid. “Kalau kita banyak koreksi, akan membuat anak tersebut malas untuk latihan,” terang Kris.

Menurutnya untuk bermain jemparingan terdapat resiko luka di bagian tangan akibat tergores kendheng atau tali busur. Dengan begitu, para anggota pun belajar untuk mengapresiasi siapapun yang berhasil mengenai target.

Jemparingan ajarkan Pendidikan Karakter

Jemparingan mengajarkan Satrio Alid untuk menghargai sesamanya. Mereka diajarkan untuk tidak membeda-bedakan semua anggota yang tergabung dalam Paseduluran Jemparingan Langenastro.

Salah satu Satrio Alid ada yang berkebutuhan khusus, namun Satrio Alid lainnya diajarkan untuk menghargai dan tidak membedakan anak tersebut.

Dengan begitu, Satrio Alid yang berkebutuhan khusus pun merasa diterima dalam kelompoknya sehingga ia akan merasa nyaman. Dampak positifnya, anak tersebut juga akan bermain lebih bagus lagi.

“Sehingga tidak ada istilah anak berkebutuhan khusus, justru yang dibutuhkan teman-teman yang bisa support dia,” tambah Kris.

Sehingga tidak hanya mengajarkan soal budaya, jemparingan juga mengajarkan pendidikan karakter untuk para Satrio Alid, seperti yang diajarkan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono I. Bagi Sri Sultan Hamengkubuwono I, jemparingan bertujuan untuk membentuk karakter, bukan untuk perang.

Sehingga dalam jemparingan pun menganut empat karakter Ksatria Jogja, yaitu: gleget, nyaiji, sengguh, dan ora mingkuk. Dengan menerapkan karakter Kstaria Jogja, jemparingan tidak akan terorientasi pada juara yang berakibat menghilangkan esensi dari jemparingan itu sendiri.

Tities I Satrio Alid Langenastro

Nickho saat mendapatkan ucapan selamat dari pengurus Jemparingan Langenastro

Nickho Wira Hidanta (11), salah satu Satrio Alid Paseduluran Jemparingan Lagenastro yang berhasil meraih tities I pada Piala Raja HB. Menurut Nickho sudah satu tahun sejak ia tergabung dalam Paseduluran Jemparingan Langenastro. Nicho baru pertama kali mendapatkan tities I pada Piala Raja HB beberapa waktu lalu.

Nickho mengaku tertarik untuk mengikuti jemparingan dikarenakan rasa penasaran terhadap panahan tradisional. “Penasaran terus pengen ikut, ditambah lagi kemarin Langenastro jadi salah satu pengisi acara saat perkemahan,” ucap Nickho.

Ia memilih untuk mengikuti Jemparingan Langenastro dan berlanjut hingga sekarang. Selain melestarikan budaya, dengan mengikuti jemparingan membuat Nickho menjadi lebih fokus dalam hal pelajaran di sekolah, karena yang utama di jemparingan, untuk bisa mengenai target diperlukan fokus yang tinggi.

Laras: Menghasilkan Keuntungan dari Hobi Nongkrong

YOGYAKARTA – Bukan rahasia umum lagi bahwa instagram merupakan media sosial paling populer saat ini. Berbagai jenis postingan dapat dijumpai di media sosial yang satu ini. Salah satunya makanan.

Veronika Laksmita Larasingtyas atau lebih akrab disapa Laras merupakan salah satu dari sekian banyak orang yang memanfaatkan instagram sebagai media penyalur hobinya yaitu makan dan nongkrong. Saat ini Laras aktif menjalankan akun makanannya @nongkrong_jogja

Awal Mula menjadi Foodgrammer

Laras, owner @nongkrong_jogja (Sumber: instagram.com/laksmitalaras)

Laras yang merupakan Mahasiswa Teknik Industri di Universitas Atma Jaya Yogyakarta ini mengawali perjalanannya sebagai foodgrammer sejak tahun 2015 saat masih duduk di bangku SMA.

“Aku kan SMA di Jogja, tapi aku asal Palembang. Karena baru pindah ke Jogja, harga makanan di Jogja dan Palembang kontras banget, jadi sering keluyuran dari kafe ke kafe dan aku selalu update di sosial media,” ujar Laras dalam wawancara (7/5)

Dari hobinya nongkrong dan posting di sosial media, Laras mulai menerima banyak pertanyaan mengenai unggahannya yang membuatnya cukup kewalahan menjawab pertanyaan yang sama.

“Karena bosen pertanyaannya sama, jadi kepikiran buat sesuatu yang bisa jawab mereka, akhirnya karena waktu itu instagram lagi rame-ramenya jadi aku buat @nongkrong_jogja,” ungkap Laras.

Mulai Menghasilkan Keuntungan

Akunnya yang semakin lama semakin berkembang membuatnya semakin mendapat banyak pengikut dan membuat Laras berani membuka jasa promosi berbayar.

“Awal-awal aku gak ada endorse, jadi yang menurut aku suka pasti aku upadate. Nah pas udah mulai naik jadi 15 ribu followers akhirnya aku pasang deh paid promote 50 ribu untuk 15 ribu followers,” paparnya.

Selain materi, menurut Laras keuntungan lain sebagai foodgrammer adalah pengalaman dan koneksi. “Keuntungan lain yang aku dapat tuh udah pasti pengalaman ya soalnya ketemu pemilik kafe dari mana-mana, aku juga ada komunitas foodgrammer namanya Foodgram YK, jadi bisa tuker ide juga,” katanya.

Pengalaman Menarik

Tidak hanya diundang ke kafe-kafe, Laras juga sempat diminta menjadi juri lomba foto makanan di salah satu acara. Saat itu peserta lomba yang didominasi mahasiswa cukup mengintimidasi Laras yang masih SMA.

“Jadi karena aku waktu itu masih SMA dan baru pulang siang, sedangkan acara juga mulai siang aku langsung kesana pakai seragam. Pokoknya disitu aku ngerasa diremehin banget,” tukasnya.

Laras juga sempat diundang sebagai pembicara dalam seminar dan workshop. “Pernah jadi pembicara dua kali, di Vokasi UGM seminar gitu kayak ngasih tau foto yang bagus dan plating makanan. Terus pernah isi talk show tentang gimana cara menghasilkan profit di usia muda,” ungkapnya.

Laras Saat Menjadi Pembicara Seminar di Vokasi UGM (Sumber: instagram.com/laksmitalaras)

Ditengah kesibukan kuliahnya, Laras masih berusahan membagi waktu antara kuliah dan kesibukannya sebagai foodgrammer. “Kalau bagi waktu aku selalu ambil kelas pagi semua, jadi setelah jam 12 aku pake buat liputan dan urus paid promote.”

Menurut Laras, untuk menjadi foodgrammer harus mempunyai ciri khas tersendiri yang membedakan dengan foodgrammer lain. Kemudian membangun interaksi dengan followers juga cukup penting.

Berita Hoax: Sumber Keresahan Masyarakat

Peristiwa bencana alam sering kali menjadi momentum bagi para pengguna media sosial untuk berlomba-lomba menyebarkan informasi untuk menunjukkan eksistensinya. Berbagai cara dilakukan untuk menjadi yang pertama, tidak terkecuali dengan menyebarkan berita yang belum tentu benar adanya alias hoax yang mengakibatkan suasana semakin keruh dan menciptakan ketakutan yang lainnya di tengah masyarakat.

Tidak jarang pula para pengguna media sosial terkecoh dan mempercayai berita atau video yang diunggah oleh akun-akun bodong, sehingga berita hoax tersebut cepat sekali tersebar melintasi berbagai platform media sosial yang ada.

Salah satu video amatir mengenai meletusnya Gunung Soputan sempat ramai dibicarakan oleh warganet. Beberapa pengguna media sosial percaya bahwa video tersebut benar-benar menunjukkan kondisi terkini meletusnya Gunung Soputan yang berada di Sulawesi Utara.

Video tersebut menampilkan gumpalan awan hitam yang turun ke jalanan di sekitar pemukiman warga dan pantauan dari udara yang memperlihatkan aliran lava turun begitu derasnya bak air sungai yang panjang.

Video Hoax

Namun, ternyata video tersebut tidak benar adanya. Video aslinya bersumber dari unggahan akun twitter @renato_lechuga yang juga disisipkan pada unggahan YouTube sebuah media asal Inggris yaitu The Telegraph yang menampilkan bahwa video tersebut adalah video yang diambil saat erupsi Gunung Fuego di Guatemala, Brazil bukan Gunung Soputan di Sulawesi Utara.

Video Asli

Berita hoax tidak hanya ada pada peristiwa bencana alam saja, seorang public figure pun sering kali diterpa berita hoax. Salah satu public figure yang sempat mengalami kejadian tersebut ialah The ACE Family, yang merupakan salah satu youtuber terkenal asal Amerika Serikat.

Suatu ketika ada sebuah akun di Twitter yang mengatakan bahwa ada seorang anak yang menjadi korban serangan Israel di jalur Gaza. Tweet tersebut ditulis oleh seorang jurnalis asal Palestina bernama Abdullah Alsaafin.

Namun sayangnya foto yang digunakan untuk pemberitaan tersebut ialah foto Elle McBroom, yang merupakan anak dari Austin McBroom dan Catherine Paiz (The ACE Family).

Postingan hoax di twitter yang menggunakan foto Elle McBroom sebagai korban serangan di jalur Gaza

Sedangkan fakta yang sebenarnya adalah foto tersebut diambil dari akun Snapchat Catherine, dengan caption My heart” yang memperlihatkan pose dari Elle McBroom, putrinya. Foto tersebut dipotong bagian tulisan atasnya dan digunakan sebagai foto seorang anak kecil yang seolah-olah menjadi korban pembunuhan.

Postingan asli dari akun Snapchat The ACE Family

Masifnya berita hoax yang beredar di media sosial menuntut para pengguna untuk selalu waspada dan selektif dalam menerima informasi. Bijak dalam bermedia menjadi salah satu kunci agar tidak terpapar informasi palsu atau hoax.


Ubah Citra Museum Lewat Kampanye Komunikasi Strategis Mahasiswa

YOGYAKARTA – Museum merupakan salah satu tempat di mana masyarakat dapat melihat peninggalan sejarah dan belajar darinya. Sering dianggap sebagai tempat yang membosankan dan monoton, berbagai usaha dilakukan agar pola pikir masyarakat mengenai museum dapat berubah.

Tidak adanya inisiatif dari pihak internal museum untuk menginisiasi gerakan “membangkitkan” museum ini dirasa sangat disayangkan mengingat potensi dari museum tersebut. Program Studi (Prodi) Ilmu Komunikasi Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) melalui mata kuliah Kampanye Komunikasi Strategis kemudian menginisiasi gerakan ini.

Museum dan Kampanye Komunikasi Strategis

Semester enam merupakan semester puncak bagi sebagian besar mahasiswa di berbagai universitas, tidak terkecuali di Prodi Ilmu Komunikasi UAJY. Berbagai “mata kuliah wajib” berlomba-lomba membekali mahasiswa agar menghasilkan output terbaiknya, baik untuk arsip kampus maupun untuk arsip mitra. Sehingga output tersebut juga dapat dijadikan sebagai portofolio mahasiswa untuk keperlua Kuliah Kerja Lapangan (KKL) atau keperluan melamar pekerjaan.

Ina Nur Ratriyana, selaku salah satu dosen pengampu mata kuliah Kampanye Komunikasi Strategis, mengatakan bahwa mata kuliah ini merupakan gabungan dari dua mata kuliah, yaitu Komunikasi Korporat dan Produksi Iklan. Salah satu output yang dihasilkan dari mata kuliah ini ialah kegiatan komunikasi.

“Sebenarnya ini kan mata kuliah gabungan dari Komunikasi Korporat dan Produksi Iklan. Nah output yang dihasilkan nanti adalah kegiatan komunikasi,” tuturnya.

Ina berkata sebenarnya mata kuliah ini tidak harus bersifat sosial, tetapi memang mata kuliah ini kerap kali bekerja sama dengan brand untuk mengajarkan mahasiswa bagaimana mereka dalam menangani client,” ujarnya.

Tahun lalu FISIP UAJY menggandeng salah satu merek lurik yaitu Lawe Indonesia, namun tahun ini para dosen sepakat untuk membantu masyarakat untuk lebih mengenal museum, khususnya yang ada di Yogyakarta. Ina berkata museum di Indonesia kurang dikelola dengan baik padahal Indonesia memegang peringkat ketiga museum terbanyak di dunia.

“Museum di Indonesia itu banyak banget tapi sayang belum digarap dengan baik, padahal Indonesia nomor tiga museum terbanyak di dunia. Jadi kami memilih museum-museum yang kira-kira bisa dibantu untuk startegi komunikasinya,” ujar Ina.

Ina dan rekan-rekan dosennya berusaha untuk bekerja sama dengan Badan Pengelolaan Museum untuk memilih museum mana yang dirasa butuh bantuan dalam strategi komunikasi, sehingga nantinya museum tidak hanya menjadi tempat yang sunyi, membosankan, tidak dikunjungi, namun bisa menjadi tempat yang seru untuk beraktivitas bersama keluarga dan teman.

Total ada 18 museum di Yogyakarta yang bekerja sama dengan FISIP UAJY untuk menyukseskan mata kuliah ini. Beberapa museum yang terlibat ialah: Museum Museum Vredeburg, Museum Geoteknologi Mineral, Museum Gumuk Pasir Parangkusumo, Museum Pusat TNI AD “Dharma Wiratama”, dan lainnya. “Kami menggandeng sekitar 18 museum di DIY dari 37 museum yang ada di Yogyakarta,” paparnya.

Dengan memilih museum sebagai mitra untuk mata kuliah Kampanye Komunikasi Strategis, Ina berharap mereka dapat menampilkan sesuatu yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, karena ini pertama kalinya mata kuliah ini memilih museum sebagai mitra.

Output yang dihasilkan untuk museum berbeda-beda, bisa berupa event, video profile, booklet, tergantung dengan kasus museum itu sendiri. Menurut Ina sendiri, jika museum tersebut belum banyak diketahui oleh masyarakat, maka tugas dari kelompok ialah melakukan brand awareness sehingga masyarakat akhirnya mengetahui museum tersebut. Namun tentunya untuk melakukan brand awareness perlu dilakukan riset audiens dan riset stakeholder (museum dan pemerintah), barulah mereka merencanakan strateginya.

Ina berharap bahwa output yang nantinya akan diberikan kepada museum dapat berguna bagi museum itu sendiri, karena dalam prosesnya pun mahasiswa selalu berkonsultasi dengan pihak museum dan juga melakukan presentasi di depan kepala museum. Sehingga museum pun dapat memberikan masukan kepada kelompok.

Promosi Museum Lewat Mahasiswa

Salah satu museum yang diajak bekerja sama adalah Museum Geoteknologi Mineral Yogyakarta. Menurut Eko selaku staff Museum Geoteknologi Mineral mengatakan bahwa ini merupakan pertama kalinya bagi mereka untuk diajak bekerja sama dalam bidang ilmu komunikasi.

Dengan adanya mata kuliah ini dan juga dengan dua kelompok yang berdinamika dengan museum, pihak Museum Geoteknologi Mineral merasa bahwa ini merupakan simbiosis mutualisme. Karena dengan adanya mahasiswa yang berdinamika di sana, museum berharap mahasiswa mampu memberikan kontribusi berupa promosi bagi museum ini. Salah satu kelompok yang berdinamika di sana juga sudah melakukan presentasi mengenai program dengan Kepala Museum.

“Sebenarnya ini merupakan simbiosis mutualisme, mahasiswa bisa menyelesaikan tugasnya disini dan kami pun terbantu dengan kontribusi yang diberikan,” tutur Eko.

Bagian dalam Museum Geoteknologi Mineral

Menurut Kaje, selaku edukator museum, berharap kelompok tidak perlu mengeluarkan materi terlalu banyak untuk membantu mereka, namun mereka akan lebih menghargai suatu program yang mungkin akan digunakan dalam waktu yang panjang, juga dapat mengenalkan museum ini ke pada masyarakat luas. Justru program promosi akan sangat membantu museum untuk lebih dikenal masyarakat, khususnya dengan menggunakan media sosial.

“Untuk promosi karena sekarang eranya media sosial, program promosi sangat membantu museum untuk lebih dikenal masyarakat dan kami berharap mahasiswa dari UAJY bisa membantu,” ujarnya.

Tolak Politik Praktis, Lembaga Mahasiswa FISIP UAJY Buat Pernyataan Sikap

YOGYAKARTA – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Atma Jaya Yogyakarta (FISIP UAJY) beserta Himpunan Mahasiswa Program Studi Komunikasi (HMPS Kom) dan Himpunan Mahasiswa Program Studi Sosiologi (HMPS Sos) UAJY sepakat untuk mengeluarkan pernyatan sikap menolak masuknya politik praktis di area kampus Atma Jaya Yogyakarta (21/3). Pernyataan tersebut mereka buat dan tandatangani dengan berisikan lima poin yang menyatakan sikap mereka terhadap isu yang sedang berkembang.

Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Atma Jaya Yogyakarta (FISIP UAJY) beserta Himpunan Mahasiswa Program Studi Komunikasi (HMPS Kom) dan Himpunan Mahasiswa Program Studi Sosiologi (HMPS Sos) UAJY sepakat untuk mengeluarkan pernyatan sikap menolak masuknya politik praktis di area kampus Atma Jaya Yogyakarta (21/3). Pernyataan tersebut mereka buat dan tandatangani dengan berisikan lima poin yang menyatakan sikap mereka terhadap isu yang sedang berkembang.

Baru-baru ini di Universitas Atma Jaya Yogyakarta, berkembang isu tentang ajakan dan pendelegasian mahasiswa untuk mengikuti deklarasi dukungan kepada salah satu pasangan calon (paslon) presiden dan wakil presiden. Isu ini berawal dari poster kegiatan yang berjudul pendidikan politik untuk mahasiswa dengan adanya pencantuman nama universitas yang telah menyebar luas dari grup ke grup lain.

Poster diduga dikeluarkan oleh salah satu lembaga universitas. Nyatanya, kegiatan tersebut merupakan kegiatan yang diadakan sebagai bentuk dukungan terhadap salah satu paslon presiden dan wakil presiden. Menurut Eduardus Pandu selaku Presiden BEM FISIP UAJY, pencantuman nama universitas bukanlah suatu tindakan yang seharusnya dilakukan oleh pihak kampus.

“Kita menolak segala bentuk politik praktis di area lembaga pendidikan yang dalam hal ini adalah kampus. Seharusnya sebagai lembaga pendidikan, tidak boleh mencantumkan identitasnya dalam poster untuk mendukung salah satu paslon. Kecuali kalau poster itu mengatasnamakan pribadi maka bisa saja,” ujar Pandu

Seorang mahasiswi menandatangani papan pernyataan sikap menolak politik praktis di kampus

Ketiga lembaga mahasiswa di atas menilai bahwa ajakan untuk mengikuti kegiatan tersebut telah melanggar Pasal 8 UU Nomor 8 Tahun 2012. Pasal tersebut mengatur tentang kewajiban pendidikan tinggi untuk menyelenggarakan pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang memberlakukan kebebasan akademik, kebebasan mimbar akademik, dan otonomi keilmuan yang terbebas dari pengaruh politik praktis.

Dalam hal ini Universitas Atma Jaya Yogyakarta tidak bebas dari pengaruh politik praktis karena mengarahkan mahasiswa untuk mendukung dan mengikuti deklarasi salah satu paslon.

Menurut Rantu selaku Ketua HMPS Sos UAJY, selain permasalahan poster, dirinya juga mengkritisi pemberian poin SPAMA (Sistem Partisipasi Aktivitas Mahasiswa Atma Jaya) bagi seluruh mahasiswa yang mengikuti kegiatan ini.

Poin SPAMA ini seharusnya dipakai sebagai tolok ukur keaktifan mahasiswa, bukan dimanfaatkan untuk kepentingan politik pihak tertentu. Rantu menyayangkan jika poin SPAMA tetap diberikan sebagai iming-iming bagi mahasiswa agar mereka mengikuti aksi deklarasi tersebut.

“Menurutku itu adalah keputusan yang salah besar karena poin SPAMA tetap diberikan kepada mahasiswa yang mengikuti aksi tersebut. Poin SPAMA harusnya tidak untuk aksi seperti ini,” kata Rantu.

Pasca tersebarnya poster dan ajakan untuk mengikuti aksi deklarasi tersebut, baik BEM dan Himpunan Mahasiswa mengambil sikap dengan mengeluarkan pernyataan penolakan serta memasang dua papan pernyataan sikap yang dapat ditandatangani civitas akademik yang menolak praktik politik praktis di kampus.

Surat pernyataan disebarkan melalui media sosial lembaga mereka masing-masing, sedangkan dukungan dari civitas akademik diperlihatkan dengan penandatanganan dua papan pernyataan sikap yang terletak di selasar lantai 1 FISIP UAJY.

Mahasiswa FISIP UAJY Tentukan Konsentrasi Lewat Studium Generale

YOGYAKARTA – Program Studi (Prodi) Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Sabtu (23/3) menggelar acara Studium Generale yang diperuntukkan bagi mahasiswa dan mahasiswa angkatan 2017. Acara digelar di Auditorium Kampus 4 UAJY dan dimulai pukul 9.30 pagi.

Studium Generale merupakan acara rutin yang diadakan sebanyak dua kali di awal tahun. Studium Generale pertama diadakan untuk mahasiswa semester dua dengan tujuan untuk memperkenalkan konsentrasi studi yang nantinya akan diambil di semester lima.

Sedangkan Studium Generale kedua diadakan untuk mahasiswa semester lima dengan tujuan untuk menentukan konsentrasi studi yang ingin diambil. Kedua konsentrasi studi yang dimaksud adalah Komunikasi Strategis dan Komunikasi Massa & Digital.

Studium Generale tahun ini bertema “Creative Innovation: Challenges for Communication Students” dan bersifat wajib bagi angkatan 2017. Ranggabumi Nuswantoro selaku Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP UAJY turut hadir dalam acara tersebut sebagai pembicara.

Studium Generale 2017 dengan teman “Creative Innovation: Challenges for Communication Students”

Laki-laki yang akrab disapa Rangga ini menyampaikan gambaran perkuliahan yang akan ditempuh mahasiswa baik untuk yang mengambil konsentrasi studi Komunikasi Strategis maupun Komunikasi Massa dan Digital. Rangga juga memberikan tips-tips agar mahasiswa dapat lulus dengan cepat dan tepat waktu.

“Yang terpeting adalah usahakan untuk lulus di seluruh mata kuliah di tahun-tahun awal agar tidak perlu mengulang lagi nantinya,” titahnya pagi itu.

Rangga juga memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk bertanya apabila masih ada hal yang kurang jelas dan keraguan dalam menentukan konsentrasi.

Sesi tanya jawab dengan Mahasiswa

Disamping itu, menurut Brahmana Putra Pratama selaku dosen FISIP UAJY yang menjadi koordinator acara Studium Generale 2019, Studium General diadakan dua kali setahun untuk dua angkatan sebagai bekal pengetahuan agar lebih mantap menetapkan jurusan.

“Studium Generale mulai diadakan untuk angkatan baru agar di tahun selanjutnya mereka sudah siap dan memiliki gambaran yang lebih jelas untuk memilih jurusan. Sehingga mahasiswa dan mahasiswi menjalankan perkuliahan sesuai dengan yang diinginkan,” jelasnya.

Para mahasiswa angkatan 2017 pun mengikuti acara Studium Generale dengan baik dan penuh perhatian. Bagi mereka, UAJY telah memberikan mereka waktu yang cukup untuk memikirkan dan menentukan konsentrasi yang hendak dipilih.

Begitulah kira-kira yang disampaikan oleh Vanya Mikaela, salah satu mahasiswa angkatan 2017. “Waktunya cukup karena selama empat semester kita dibiarkan memilih sambil mempersiapkan diri dengan ilmu-ilmu dasar komunikasi,” jawabnya.

Tjandra Santosa: Cinta Dunia Perfilman Sejak Kecil

YOGYAKARTA – Dunia perfilman Indonesia memang sedang bergerak maju baik di lokal maupun Internasional. Kiprah anak muda menjadi salah satu hal yang mempengaruhinya.

Tak terkeculi Tjandra Santosa yang lebih akrab disapa Tjandra. Laki-laki kelahiran Bandung yang besar di Muntilan, Magelang, Jawa Tengah ini mulai menyukai dunia perfilman sejak ia masih kecil.

Mulai Menulis Cerita Sejak Kecil

Tjandra yang saat ini merupakan mahasiswa Ilmu Komunikasi di salah satu universitas swasta di Yogyakarta mengatakan bahwa kecintaannya akan dunia perfilman dimulai saat ia masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD).

Saat itu Tjandra mengirim salah satu cerita buatannya ke salah satu program komedi di televisi untuk diperagakan dalam salah satu segmen. Tak disangka ternyata tulisan yang dikirimkannya mendapat kesempatan untuk diperagakan di segmen tersebut.

“Jadi waktu SD ada acara namanya Extravaganza, ada satu segmen di program itu yang mengajak audiens untuk nulis cerita yang nantinya akan dimainkan adegannya. Aku gak tahu gimana, cerita yang aku ingat banget ditulis pakai spidol warna hijau bisa dimainkan. Dari situ yang bikin aku makin senang untuk scriptwriting,” jelas Tjandra dalam wawancara (22/03).

Selain itu, ayahnya juga merupakan sosok yang menginspirasinya untuk terus berkarya. “Kalau sosok yang menginspirasi ayahku sendiri sih. Kalau dari dunia perfilman ya sebatas kagum aja, jadi kalau sosok yang aku idolakan ya ayahku,” ucapnya.

Memasuki bangku perkuliahan, Tjandra bergabung dengan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang berfokus pada produksi film. Melalui UKM tersebut, Tjandra dan teman-temannya mulai melakukan produksi film dengan didukung fasilitas kampus dan dana UKM.

Awalnya ia mengambil peran sebagai asisten sutradara dalam sebuah produksi film UKM itu, kemudian ia mulai memantapkan diri untuk mencoba menjadi sutradara dan menghasilkan beberapa karya.

3 Film Horror dan 1 Film Keluarga

Sejauh ini, Tjandra telah membuat film pendek sebanyak 4 film yang 3 diantaranya merupakan film horror, dan 1 film dengan tema keluarga. Tjandra juga sering membuat film-film dengan durasi 1 menit yang ia unggah di instagram.

“Untuk film di mana aku sebagai sutradara ada tiga film horror dan 1 film keluarga. Judul filmnya ada film Ikut, Disambut, Disambut (Remake) dan yang terakhir itu Keajaiban Disaat Tidur,” ungkapnya.

Film pertamanya yang berjudul Ikut, bercerita tentang mahasiswa yang menyalahi aturan jam malam kampus yang berujung pada gangguan gaib penunggu kampus yang mengikutinya pulang.

Kemudian film keduanya yaitu Disambut, diambil dari mitos yang selama ini berkembang di tengah masyarakat khususnya para pendatang yang disambut oleh suara-suara musik Jawa di tengah malam dan makhluk gaib. Sedangkan untuk film Disambut (Remake) merupakan cerita serupa namun digarap dengan lebih matang.

Film terbarunya, Keajaiban Disaat Tidur merupakan film keluarga yang mengangkat kisah masa kecil saat tertidur di depan televisi dan terbangun di kamar. “Jadi waktu masih anak-anak kadang tidur di depan TV kebangun di kamar. Waktu itu pola pikir anak-anak masih sederhana, ada yang bilang diangkat memedi lah atau apa yang penting ada keajaiban disaat tidur,” jelas Tjandra.

Tembus Festival Film

Di pertengahan bulan November 2018, film buatannya mendapat kesempatan untuk ditayangkan dalam sebuah festival film yang diselenggarakn oleh Klub Film Anak Grafika. Festival Film yang diselenggarakan setiap 2 tahun sekali ini bernama Fiagra Horror Film Festival (FHFF).

Tidak hanya 1 film, namun 2 film arahannya yaitu film Ikut dan Disambut (Remake) sempat ditayangkan dan meramaikan festival film tersebut. “Itu gak nyangka sih bisa tembus sebagai film festival karena notabenenya aku baru pertama kali buat film, kru filmku juga baru pertama kali ikut produksi film. Ya sebuah kesempatan dan pengalaman berharga,” ungkapnya.

Tjandra memanfaatkan kesempatan ini untuk mencari lebih banyak referensi dengan bertemu dengan filmmaker lain dan melihat karyanya, diskusi dan saling bertukar ide.

Tjandra juga bercerita bahwa sejauh ini respon penonton cukup beragam, mulai dari respon ang baik, dan memberikan kritikan. “Sebenarnya tujuanku itu aku mau berkarya dan setidaknya bisa ditonton orang dan menghibur. Gak harus juara, gak harus dapat penghargaan, gak harus dipuji semua orang. Tapi orang nonton aja karyaku, aku udah bangga sih di situ,” tuturnya.

Proses Pembuatan Film

Selama proses pembuatan film ia banyak dihadapi dengan hal menarik, khususnya dinamika dengan banyak jenis dan karakter orang. “Kalau sama talent bisa membuat lebih akrab atau malah memangkas jarak. Mungkin karena molor jadwal shooting dan banyak hal. Kalau dengan kru ya itu satu keteledoran bisa bikin kerjaan lain jadi mundur juga,” paparnya.

Disamping itu, menurutnya hal itu yang membuat sebuah produksi film menjadi menarik, karena selalu ada sesuatu yang bisa dipelajari. Kemudian ia juga menjelaskan untuk selalu mejaga mood talent merupakan kunci yang akan mempengaruhi seluruh proses pembuatan film.

Hambatan terbesar yang ia hadapi selama ini adalah waktu luang, karena kesibukannya sebagai mahasiswa dan atlet karate juga menuntut sebagian besar waktunya terbagi. “Uang itu bisa diadakan, kru bisa dicari asal ada waktu. Intinya itu waktu luang sih,” ungkapnya.

Foto: Dokumen Pribadi Tjandra Santosa

Saat ini Tjandra sedang mengembangkan beberapa ide cerita yang akan mengangkat tema seputar horror, komedi dan keluarga. “Ntah kenapa aku lagi suka film-film keluarga sih jadi kemungkinan dibuat setelah KKN (Kuliah Kerja Nyata) dan sebelum KKL (Kuliah Kerja Lapangan),” paparnya.

Menurutnya, saat ingin berkarya atau menghasilkan sesuatu jangan fokus dengan ketakutan nanti, karena menurutnya hal itu yang justru menghambat. “Kadang keraguan itu yang menghambat kita mau ngapain, pikir tentang gimana caranya mencapai hal itu bukan apakah akan berhasil atau enggak. Jadi ya segalanya harus dikerjakan ya benar kata Nike, Just Do It!” jelasnya menutup wawancara.